Kuliah Jalur Mandiri?

Mau nyapa dulu ...

Selamat pagi
Selamat siang
Selamat sore
Selamat malam

Disesuaikan aja sama waktu bacanya 😁

Assalamu'alaikum, 

Kali ini aku mau bagi cerita lagi. 
Curhat? Enggak sama sekali. 
Lalu? Cuma sharing sedikit dari apa yang pernah aku alamin. Memang nggak semua. Tapi ada beberapa pernah alamin hal serupa, pengen cerita tapi ga ada temen atau gaberani mulai. Nah disini aku mewakili perasaan kamu. Semoga tersampaikan ya :) 

**
Pernah diremehin orang lain? 
Sebagian besar pasti pernah ya. Entah itu ngomong langsung di depan atau ngumpat di belakang. Aku rasa kamu juga pernah.

Kalau kayak gitu, gimana perasaan kamu? 
Sedih pasti. Nelongso. Ngerasa kayak kita gak berguna (wadoh berat wkwkw). Intinya kalau diremehin itu, kemampuan kita nggak dianggap atau bahasa lainnya dianggap. Tapi dianggap nggak mampu.

**
Tahun lalu, mungkin aku ngerasain hal yang sama. Sebelum aku seneng karena satu impianku tercapai, aku pernah nggak seneng dulu. Diombang-ambing sama sesuatu yang belum ada kepastiannya. Digantung. 

Satu sisi aku pengen kerja dulu, karena banyak faktor. Salah satunya ya karena aku nggak punya prestasi sama sekali waktu SMK. Di sisi lain ada keinginan yang harus aku pendam dulu, kuliah.

Ngelamar kerja 1 2 3 .... ditolak. Tinggal 2 harapan yang masih bisa aku pegang. Satunya tinggal masuk aja, tapi harus mundur karena ada suatu hal yang dilarang sama agama. Satunya lagi udah interview tinggal nunggu pengumuman, tapi harus mundur karena ada faktor lain. 

**
Tiba-tiba ditawarin buat kuliah sama ayah ibuk. Itu bulan Juli loh, eh Juni apa Juli ya pokoknya sekitar itu. SNM, UTBK udah pada tutup. Seneng tapi nggak mau bebanin. Carilah info beasiswa. Ada di PTS di Jogja. Menggiurkan banget, beasiswa penuh S1 + tinggal di pondok. 

Ngomong, setuju, akhirnya tes. Dan waktu itu aku yakin bisa dapetin beasiswanya (optimisku gede banget wkwkw). Ternyata tesnya ada bahasa Arab sama kayak pondok-pondok gitu. Pudar deh keyakinanku hahah (soalnya ga pernah mondok. Bahasa Arab bisanya cuma anna uhibbuka fillah wkwk). 

Aku lolos tesnya. Tes masuk univ, belum beasiswanya. Waktu aku hitung-hitung cost selama 4 tahun bakal buanyak buanget, gede. Itu hitungan kalau aku nggak dapet beasiswa. Akhirnya nggak jadi ambil.

**
Tanya ke saudara. "Mas, kalau kuliah ........?"
Dijawablah, "Di Malang aja Tan, jangan jauh-jauh".

Ada dua kampus yang pengen. Satunya puengen banget. 
Tapi kok tinggal mandiri ya???

Tanya ke guru agama, "Pak, kuliah jalur mandiri apa boleh?" 
Dijawab sama bapaknya, "Insyaa Allah boleh. Mandiri itu legal ......".

Tanya ke temen, "Kalau mandiri gimana?"
Dijawab sama dia, "Ya, mandiri cuma bahasa halusnya sih, tapi sama aja jalur belakang (nyogok)".

Sek sek, kalau mandiri nyogok emang kamu ga pernah sekolah ta dulu? SMP, SMA. Sistemnya kan sama. Tes dulu. Pengumuman penerimaan. Kalau diterima lanjut administrasi bayar uang gedung + spp. Trus terdaftar jadi siswa. SMP SMA dulu gitu kan? + Bayar seragam. Sama. Mandiri kuliah juga gitu. Kalau nyogok berarti bayar dulu, baru diterima. SNM SBM juga gitu toh? Tapi ga bayar uang gedung, UKT aja. Iya kan? SNM kalau diterima trus lanjut administrasi, UKT. SBM juga, tes dulu trus diterima lanjut administrasi, UKT. Bedanya di uang gedung aja. Kalau mandiri nambah uang gedung. (Pernah baca ga semua kampus netapin uang gedung di jalur mandiri).

Ada yang bilang, "Ohhh, ya mungkin peminatnya dikit kali makanya masuk".

Paling parah menurutku, "Iya lah masuk, mudah banget kan tinggal bayar sekian langsung diterima, dapat kursi".

Gak segampang itu he.
Aku sampein sekali lagi ya, mandiri juga tes. Bukan bayar dulu besar-besaran biar diterima. Aku ngalamin sendiri. Dua kali tes mandiri dan keduanya ga mudah. Malah dari teknik ke sosial. Kalau tinggal bayar dijamin masuk, ya gamungkin belajar mati-matian. Di sisi lain ada biaya ga sedikit yang harus diperjuangkan juga.

Ada lagi, "Kok ga taun depan aja se? Anaknya temenku lo enak gausah bayar uang gedung, cuma spp aja. Enak wes".

Hmmm ...

**
Nggak semua orang bisa dapat kesempatan yang sama, peluang yang sama di waktu kedua. Ada, tapi nggak semua. 

Setiap orang juga punya perjuangannya masing-masing. Sebelum bisa dapat impiannya, ada perjuangan yang aku sama kamu ga tahu itu. Kelihatannya mudah aja, tapi kita ga tahu kan nangisnya, beratnya.
Noted: Yok, mulai belajar > harus bisa menghargai setiap perjuangan orang lain.

Ibarat mau ke Surabaya. Bisa kok kesana dari arah Malang, Kediri, dll. Bisa juga naik motor, mobil, truk, bus, pesawat, bahkan kapal. Lewat tol, jalan raya, atau jalan tikus. Jalanannya juga ga selalu mulus dan lurus. Ada yang makadam,  belok, naik turun, sampai jalan yang udah rusak sekalipun.

**
Apa yang perlu diambil hikmahnya?
Jalan menuju sukses itu nggak cuma satu. Ada banyak banget cara dan usaha yang bisa dilakukan, asal bukan cara yang dilarang. 

Buat yang pernah diremehin. Jalan aja, nggak usah pedulikan apa pun yang menjatuhkanmu. Kalau mereka bisa sukses dengan usahanya, kamu juga bisa sukses dengan usahamu. 

Buat yang bisa dapetin apa yang diinginkan dengan cara yang menurutmu lebih baik, tolong jangan hancurkan usaha yang lain (agar kamu ngerasa paling baik dan kemudian seenaknya buat banggain). Boleh bangga, boleh banget. Tapi bukan dengan menjatuhkan yang lain. Siapa tau tinggal selangkah lagi, tapi harus berhenti bahkan kembali karena anggapanmu yang menyakiti.

Tertulis bukan buat yang berjuang mau kuliah aja. Tapi semua yang sedang berjuang. Berjuang untuk pekerjaan, bisnis, ujian, atau menikahi anak orang. 

Semangat yaaa
Kamu bisa :))


Salam dari kota dingin lagi 

Komentar

Posting Komentar